Ya ... Cerita seputar kehamilanku yang ke-2 menjadi topik tulisan pertama life stories kali ini, dan ini dia the magical moment of my life.
![]() |
| foto ini diambil saat usia kehamilanku menginjak 11 minggu |
November 2016
Minggu terakhir bulan November, kebetulan aku dan suami ber-staycation di Merbabu Guest House, masih di seputaran kota Malang. Dan biasanya minggu terakhir adalah jadwal periode kewanitaanku, tapi di bulan November kemarin si "tamu" tak hadir berkunjung.4 weeks
Sore hari itu di awal bulan Desember, di tengah kegalauanku. Kuberanikan diri membuka bungkus test pack, dan kemudian kudapati hasilnya positif. Sujud syukur, alhamdulillah.Si "tamu" yang sudah telat hampir seminggu, aku pun merasakan beberapa gejala seperti payudara kadang mengencang, perut kram, dan frekuensi pipis makin sering. Lalu keesokkan paginya, 3 Desember 2016 aku bergegas ke obgyn. Hasil googling, plus setelah mendapat referensi dari teman blogger Ngalam (terima kasih Neng Biker).
4 minggu sudah ternyata usianya, tampak di layar usg dalam rahimku membentuk sebuah kantong yang dinamai kantong kehamilan. Dokter memberiku penguat janin, serta vitamin dan menjadwalkan kontrol 2 minggu lagi. Selain itu aku diwajibkan menjalani beberapa tes, di antaranya: tes golongan darah, tes urine, dan check-up tipis-tipis.
6 weeks
Waktu 2 minggu tsb kulalui dengan sedikit kegamangan di tengah trauma yang kembali hadir. Ya, kehamilan pertama aku mengalami Blighted Ovum (kehamilan kosong).Sore itu aku kontrol ke dokter obgyn yang berlokasi di Jalan Garbis No.8 Malang, ditemani suami, registrasi dulu kemudian hasil lab diserahkan padaku. Alhamdulillah hasilnya normal semua.
Masuk ke ruangan periksa, melakukan usg, kemudian Dr. Novina P. SpOG menunjukkan perkembangan janin yang ada di dalam rahimku. Ya ... dia berkembang, alhamdulillah. Dokter juga mendengarkan denyut jantung si calon baby kepada kami, that's the best sound that I've ever heard. I love you, before I meet you ♡
Saat itu usia kandunganku 6 minggu dengan besar janin mencapai 8.5mm dan kontrol selanjutnya dijadwalkan sebulan kemudian.
8 weeks
Tidak sampai sebulan jadwal kontrol tiba, aku yang acapkali cuek dengan kandunganku. Mengharuskan lebih awal menjumpai dokter obgyn. Dikarenakan, tiga hari terakhir aku mengalami beberapa gejala seperti ketika akan menstruasi (oh tidak...). Mami yang saat itu berkunjung ke Malang bersama adik beserta keluarga kecilnya menguatirkan keadaanku, padahal mereka ke Malang kan mau berlibur.Dokter obgyn mencari tahu ada apa gerangan dengan kandunganku, sempat dikira aku habis terjatuh. Namun nyatanya tidak, mungkin terlalu capek. Ya, berkali-kali aku mengabaikan alarm dari si calon baby untuk beristirahat sejenak ketika sedang beraktivitas di rumah. Namun tak kuhiraukan, pusing selalu kuanggap biasa. Lanjut mengepel, menyapu dan memasak. Aktivitas harian ibu rumah tangga pada umumnya.
Nyatanya hal tsb berimbas aku diharuskan bedrest selama seminggu. Dokter pun meresepkan penguat janin yang diminum 2x sehari, plus malam hari 1x selama 5 hari dimasukkan melalui (maaf) vagina. Pelajaran buatku ... Listen to your body.
Diagnosa mengatakan terdapat hematoma di dekat kantong kehamilan, ditakutkan membahayakan si calon baby. Sontak aku sempat down, namun suami dan keluarga menguatkanku.
"Hematoma adalah kumpulan darah tidak normal di luar pembuluh darah. Kumpulan darah ini bisa berukuran setitik kecil, tapi bisa juga berukuran besar dan menyebabkan pembengkakan." [1]
9 weeks
Nggak terbantahkan, perubahan hormon membuatku sensitif dan secara fisik jerawat mulai menyelimuti wajahku. Beruntung aku memiliki suami yang tidak terlalu merisaukan hal tsb. Ohya, di jadwal kontrol kali ini, mami yang menemaniku. Ah ... senangnya :)![]() |
| foto kiri: sebelum bedrest, foto kanan: setelah bedrest |
Di minggu-minggu tsb aku mengganti asupan kalsium yang sebelumnya mengunakan tablet effervescent (CDR), dengan nutrisi dari susu untuk kehamilan (Prenagen). Tapi karena perutku kurang kompromi dengan yang namanya susu, akhirnya sekarang aku mengonsumsi tablet suplemen khusus kalsium. Ganti-ganti mencari yang pas, daripada diare berkepanjangan.
Di minggu ke-9 si calon baby berukuran 26.4mm dan dosis penguat janin dikurangi menjadi 1x sehari saja.
11 weeks
Ketika aku dirasa sudah cukup fit, mami kembali ke Surabaya. Dan jadwal kontrol hari itu aku ditemani suami, alhamdulillah area hematoma makin menipis dan tak perlu dirisaukan lagi. Penguat janin sudah boleh dilepas, mengingat perkembangan si calon baby yang bagus dan normal.Namun, ada hal yang perlu mendapat perhatian. Yakni kondisi tekanan darahku cenderung tinggi. Terakhir 144/103, wow! Dokter mencurigai faktor genetik yang menyebabkan hal tsb terjadi, karena tes urine kemarin normal. Meresepkan Thrombo Aspilet sebagai obat pengencer darah, diharapkan 2 minggu kedepan tekanan darahku normal.
Nah, selain mengonsumsi obat tsb. Aku juga mengonsumsi buah-buahan yang berkhasiat membantu menurunkan tekanan darah, seperti buah melon. Selain itu, aku juga mengurangi asupan natrium, seperti mengurangi penggunaan garam dan makan makanan cepat saji seperti snack dkk. Untungnya aku tidak terlalu suka cemilan snack-snack kekinian, apalagi fast food. Lain halnya dengan snack tradisional seperti keripik tempe atau rengginang lorjuk hahaha. Sebiji dua biji masih oke lah.
***
Ya, itulah cerita kehamilanku di trimester pertama kemarin, sampai jumpa di tulisan berikutnya. Sehat selalu untuk kita semua ^^
with luv ♡
* sumber informasi:[1] hematome, www.alodokter.com/hematoma (diakses tanggal 19 Januari 2017).





